HIPPI IPO Forum 2026: Mendorong Pengusaha Indonesia Tumbuh melalui Pasar Modal
Pada 20 Agustus 2026, Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DPD DKI Jakarta, bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), menyelenggarakan HIPPI DKI Jakarta IPO Forum 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Mengusung tema “Tumbuh Bersama Pasar Modal: Strategi Pengusaha Indonesia Membangun Bisnis yang Lebih Besar, Lebih Kompetitif, dan Siap Go Public,” forum ini mempertemukan para pemimpin usaha, praktisi pasar modal, regulator, dan komunitas pengusaha untuk membahas bagaimana perusahaan Indonesia dapat memperkuat bisnis sekaligus mempersiapkan diri menghadapi peluang di pasar modal.
Forum ini juga menghadirkan Executive Panel Discussion dengan tema “IPO sebagai Strategi Pertumbuhan Bisnis Indonesia”, yang menghadirkan Mikail Jaman, CPA, CA, CPI, Managing Partner KAP Agus Ubaidillah & Rekan (TGS AU Partners) sebagai salah satu panelis, bersama perwakilan Bursa Efek Indonesia dan ekosistem pasar modal.
Lebih dari Sekadar Bisnis yang Berhasil: Pentingnya Naik Kelas
Bagi banyak perusahaan, memiliki produk yang kuat, pasar yang telah terbentuk, dan profitabilitas yang sehat merupakan sebuah pencapaian penting. Namun, membawa bisnis dari perusahaan yang berhasil menjadi perusahaan yang lebih besar, kompetitif, dan berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar kinerja operasional.
Forum ini menyoroti sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kemampuan perusahaan untuk berkembang, mulai dari akses terhadap permodalan, persaingan usaha, sumber daya manusia, teknologi, hingga tata kelola perusahaan.
Akses terhadap pendanaan menjadi semakin penting bagi perusahaan yang memiliki agenda ekspansi yang agresif. Meskipun pembiayaan konvensional dapat mendukung pengembangan bisnis, perusahaan yang terus bertumbuh pada akhirnya dapat mempertimbangkan sumber pendanaan alternatif—termasuk pasar modal—sebagai bagian dari strategi pertumbuhan yang lebih luas.
Di sinilah pembahasan mengenai Initial Public Offering (IPO) menjadi relevan.
IPO sebagai Strategi Pertumbuhan, Bukan Sekadar Penggalangan Dana
IPO sering kali diasosiasikan dengan perusahaan yang telah mencapai skala bisnis yang besar. Namun, forum ini mendorong perspektif yang lebih luas: perusahaan yang masih berada dalam tahap pertumbuhan pun dapat mulai mempersiapkan diri menuju pasar modal jauh sebelum siap untuk melakukan penawaran umum.
Selain memperoleh dana, masuk ke pasar modal dapat memberikan manfaat strategis yang lebih luas bagi perusahaan, termasuk dalam meningkatkan kredibilitas dan visibility perusahaan.
Karena itu, bagi para pengusaha, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “Apakah perusahaan kami bisa IPO?”, tetapi juga “Perusahaan seperti apa yang harus kami bangun agar siap memasuki pasar modal?”
Perspektif tersebut mengubah pembahasan mengenai IPO dari sekadar sebuah transaksi menjadi bagian dari proses jangka panjang dalam membangun perusahaan yang lebih kuat.
Kesiapan IPO Dimulai Jauh Sebelum Proses IPO
Salah satu tema utama dalam Executive Panel adalah mengenai IPO readiness atau kesiapan perusahaan menuju IPO.
Sebuah perusahaan tidak serta-merta menjadi siap IPO hanya karena telah mencapai ukuran atau tingkat keuangan tertentu. Fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, struktur organisasi, pelaporan keuangan, tata kelola, hingga kesiapan manajemen merupakan bagian penting dalam mempersiapkan perusahaan menuju status sebagai perusahaan terbuka.
Bagi perusahaan yang menargetkan IPO beberapa tahun ke depan, persiapan dapat dimulai jauh sebelum proses IPO secara formal dimulai.
Artinya, perusahaan perlu memperkuat fondasinya sejak sekarang, bukan menunggu hingga IPO menjadi agenda yang mendesak.
Memperkuat Pelaporan Keuangan, Tata Kelola, dan Transparansi
Dari perspektif akuntansi dan assurance, pelaporan keuangan merupakan salah satu fondasi penting yang perlu diperkuat perusahaan.
Laporan keuangan yang selama ini memadai untuk kebutuhan internal perusahaan belum tentu secara otomatis siap untuk kebutuhan perusahaan publik. Konsistensi, kualitas, transparansi, serta kesiapan menghadapi proses due diligence menjadi semakin penting ketika perusahaan mulai mempersiapkan diri memasuki pasar modal.
Prinsip yang sama juga berlaku untuk tata kelola perusahaan. Menjadi perusahaan terbuka berarti perusahaan harus siap menjadi lebih transparan dan accountable kepada kelompok pemangku kepentingan yang lebih luas. Karena itu, governance seharusnya tidak dipandang hanya sebagai persyaratan yang muncul karena perusahaan ingin melakukan IPO. Tata kelola yang baik justru perlu dibangun sebagai bagian dari fondasi bisnis sejak awal.
Hal ini menjadi semakin relevan bagi pengusaha yang memiliki target untuk melakukan IPO dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Alih-alih menunggu proses IPO dimulai, perusahaan dapat mulai memperkuat financial reporting, governance, internal control, struktur organisasi, dan kapabilitas manajemen sejak sekarang.
IPO Adalah Milestone, Bukan Garis Akhir
Pesan penting lain yang muncul dalam forum ini adalah bahwa IPO bukanlah tujuan akhir.
Menjadi perusahaan terbuka justru menandai dimulainya tahap baru dalam perjalanan perusahaan. Setelah memperoleh akses terhadap pasar modal, perusahaan perlu terus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, menggunakan dana secara efektif, memenuhi tanggung jawab kepada investor, serta menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dalam jangka panjang.
Karena itu, keberhasilan IPO tidak seharusnya hanya diukur dari berhasil atau tidaknya proses pencatatan saham di bursa.
Ukuran yang lebih bermakna adalah apa yang berhasil dibangun perusahaan setelah menjadi perusahaan terbuka: fundamental bisnis yang lebih kuat, pertumbuhan yang berkelanjutan, tata kelola yang lebih baik, serta penciptaan nilai dalam jangka panjang.
Mempersiapkan Hari Ini untuk Pertumbuhan di Masa Depan
HIPPI IPO Forum 2026 pada akhirnya membawa pesan praktis bagi para pengusaha Indonesia: persiapan menuju IPO sebaiknya dimulai jauh sebelum IPO itu sendiri.
Bagi pengusaha yang membayangkan perusahaannya menjadi perusahaan terbuka dalam tiga hingga lima tahun ke depan, beberapa pertanyaan mendasar dapat mulai diajukan sejak sekarang:
-
Apakah pelaporan keuangan perusahaan sudah cukup konsisten dan dapat diandalkan?
-
Apakah struktur tata kelola perusahaan sudah siap mendukung organisasi yang lebih besar?
-
Apakah internal control perusahaan cukup kuat untuk mendukung transparansi dan akuntabilitas?
-
Apakah perusahaan memiliki cerita pertumbuhan yang jelas dan berkelanjutan?
-
Apakah manajemen siap menjalankan perusahaan dengan tingkat akuntabilitas yang lebih tinggi kepada investor dan pemangku kepentingan lainnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hanya relevan bagi perusahaan yang sedang mempersiapkan IPO. Semuanya merupakan bagian dari proses yang lebih besar dalam membangun bisnis yang lebih tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan.
Kontribusi TGS AU Partners dalam Mendukung Pertumbuhan Bisnis
Partisipasi Bapak Mikail Jaman, CPA, CA, CPI, Managing Partner KAP Agus Ubaidillah & Rekan (TGS AU Partners) sebagai salah satu panelis dalam Executive Panel mencerminkan pentingnya perspektif profesional dalam membantu perusahaan memahami dan mempersiapkan diri terhadap tuntutan pasar modal.
Melalui partisipasi dalam forum seperti HIPPI IPO Forum 2026, TGS AU Partners berkomitmen untuk berkontribusi melalui perspektif profesional dalam mendukung perkembangan dunia usaha Indonesia serta membantu para pengusaha memperkuat fondasi pelaporan keuangan, governance, assurance, dan organisasi untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, perjalanan menuju perusahaan terbuka bukan hanya tentang mempersiapkan diri untuk IPO. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah tentang mempersiapkan bisnis untuk menjadi lebih besar, lebih kuat, lebih transparan, dan siap menghadapi tahap pertumbuhan berikutnya.
[ Lebih Banyak tentang Jasa IPO Kami ]
Rekomendasi Artikel.





